Teknologi Warna

Pemakaian tinta, tantangan para pelaku industri dan paranoia yang timbul di industri cetak. Diskusi ini menarik dan sangat relevan untuk disimak dimana Usman Wibisono, Octa Lesmana, dan Hadi Prabowo saling mengemukakan pengamatan, pendapat dan pemecahan dalam berkomunikasi sesame pelaku cetak, yang dapat digunakan bagi pembaca untuk belajar dan bahan acuan.

Kemajuan teknologi warna
Menurut Usman Wibisono dari Spectra Star, dunia cetak kita sudah ketinggalan jauh dengan tetangga kita Australia yang sudah menemukan Opaltone untuk cetak Opaltone system adalah system separasi warna dengan 7 process color (CMYK + RGB) demikian pula Pantone dengan Hexachromenya (CMYK + Green & Orange).

Kedua system warna ini sudah dimanfaatkan dibeberapa printer terkenal yang sudah memiliki cartridges ink/toner CMYK + RGB (atau OG) sehingga perbedaan visual screen monitor (yang sudah terkalibarsi tentunya) dengan hasil printing nya tidak berbeda jauh.

Sedangkan pada cetak komersial – proses nya lebih panjang dimana monitor tidak boleh menjadi referensi yang menjadi referensi adalah color guide (Pantone, HKS dsb) color value yang dipakai bisa nilai CMYK / RGB /L*a*b / LCH / Hue. Setiap tinta CMYK memiliki perbedaan color index sehingga memiliki hue yang berbeda. Sehingga untuk mendapatkan warna yang sama nilainya seharusnya tinta dibakukan hue nya.

Overtrap dari tinta-tinta CMYK akan menghasilkan khusus yang gamutnya terbatas. Apabila ditambahkan tinta-tinta RGB maka gamut warna akan menjadi lebih luas, sehingga warna pastel & fluorescence yang mirip bisa diperoleh.

Kendala “tukang cetak”
Dengan demikian teknologi warna ini sudah sangat maju dimana kita di Indonesia seharusnya sudah menerapkan teknologi ini. Kendalanya adalah kemauan dan pesimistik dari berbagai kalangan, demikian ditekankan oleh Usman Wibisono.

Sebagai contoh nyata adalah logo 3D Pepsi yang dulunya 2D dengan special color sekarang merupakan perpaduan CMYK + Red & Blue (6 process color) bukan lagi 2 opaque special color Pepsi Red & Blue.

Sehingga diperlukan teknologi color separasi khusus. Apabila tidak dengan separasi khusus tersebut kita lihat logo Pepsi yang berbeda warna di baliho-baliho raksasa Pepsi dimana biru nya menjadi ungu, kalau orang Pepsi USA lihat baliho tersebut akan marah besar.

Pernyataan ini diperkuat oleh Octa Lesmana, seorang designer yang banyak terlibat dengan percetakan yang sering merasa kecewa dengan kemampuan dan keengganan perusahaan cetak. Kebanyakan “Tukang cetak”, bukan printer professional yg bermodal mesin canggih dan SDM yg mendukung, malah ciut dan paranoia duluan saat para desainer mengajukan permintaan cetak dgn warna-warna Flourescent, khusus atau yang mereka anggap ‘aneh-aneh’. Mereka malah menganjurkan para desainer utk memakai warna yang ‘standar-standar’ saja dengan alasan daripada warnanya tidak terkejar.

“Saya sering dengar istilah NGADUK CAT, padahal saya sudah sertakan PANTONE CHIP yg saya maksud,” lanjut Octa Lesmana. Pertanyaannya, apakah betul seorang printer harus terlebih dahulu mengaduk-aduk cat utk menghasilkan 1 warna Pantone yg sudah paten? Kalu kita memberikan referensi sebuah Pantone Chip = 1 warna, lalu apa yg perlu diaduk? Apakah tintanya datang berupa satuan warna2 dasar? Sehingga perlu ‘diaduk’?

Singkatnya yang ditemui di kenyataan lapangan, teori cetak dan warna tidak relevan. Buru-buru operator mesin cetaknya (disebagian tempat cetak low budget) mengerti tentang “gamut”, “wavelength” warna, opaltone, warna subtractive, dan lain-lain. Yang terjadi adalah mereka melakukan “adjustment manual dikombinasi pengamatan mata” untuk mengejar warna dari contoh jadi / chip pantone yg disertakan.

Saudara Octa Lesmana melanjutkan, pernah juga saat ingin saya ingin tahu (minta saran) proses finishing yg canggih dan saya menanyakan ke tukang cetak, dan jawaban standar adalah mahal, repot dan buang uang. Saya tidak dianjurkan untuk menggunakan teknik-teknik tersebut pada desain yang dibuat.

Yang terjadi sebaliknya, desainer malah dipaksa untuk mengikuti arus yang mengekang naluri kreasi desainer. Karena tidak ada yang mau repot melakukan ekeperimen atau menggunakan teknologi yg sudah canggih dan tersedia, semuanya berujung pada kelambanan dan kedodoran teknologi. Tukang cetak cenderung memakai akal-akalan untuk ‘menekan cost’ sehingga PRINT BUYERS yg belum berpengalaman juga cenderung berpikir yang sama “Untuk apa embel-embel yang mahal dan extra kalau saya bisa dapat ‘desain’ yg standar dgn harga yg lebih murah? Toh bisnisnya tetap jalan.”

Tidak ada warna yang tidak terkejar
Hadi Prabowo, waktu itu beliau adalah professional dari industri tinta cetak –Inkote- yang paham dengan warna khususnya subtractive color atau pigment color, berpendapat, “Tidak Ada kata warna tidak bisa dikejar asal kita tahu teori warna yang akan membantu kita untuk menyiasati reproduksi warna.”

Almarhum Hadi Prabowo, yang saat ini sudah meninggalkan kita, menambahkan bahwa, semua tahu bahwa color gamut CMY sangat sangat terbatas, oleh karena itu para ahli warna menciptakan sistem sistem lain seperti Pantone Haxachrome, Opaltone, Eder, dan lain-lain, tujuannya adalah untuk memperluas color gamut dari CMY. Begitu pula pigment pigment dengan saturation tinggi dibuat seperti Fluorescent, Phthalo Green, Orange, Warm Red, Rhodamine Red, Purple, Violet Metallic, Non Metal Metallic mempunyai tujuan sama yaitu untuk memperluas color gamut dari reproduksi warna.

Karena warna tinta dibuat dari pigment, oleh karena itu dia termasuk golongan subtractive color, maka faktor faktor diluar tinta akan berpengaruh pada hasil cetakan. Faktor faktor itu diantaranya adalah, kertas, print density, dot gain,t rapping, ink water balance untuk cetak offset.

Perlu diingat bahwa pada dasarnya yang memberikan warna adalah cahaya, dalam hal ini RGB Dan pigment hanya bereaksi pada panjang gelombang spectrum RGB dengan cara menyerap, meneruskan dan memantulkan masing-masing sebagian sehingga mata kita kita menangkapnya sebagai warna.

Pantone adalah standar bahasa komunikasi
“Kita” dalam hal reproduksi warna dengan gaya bahasa Almarhum Hadi Prabowo adalah semua yang terlibat didalamnya, mulai dari desainer yang punya konsep design, percetakan yang akan memperbanyak design tersebut, pabrik tinta yang membuat tintanya, dan pihak terkait lainnya. Saya pikir kita semua mesti berbagi, agar supaya konsep(termasuk warna) yang dibayangkan oleh desainer pada saat menciptakan sebuah design dapat direproduksi setidaknya sangat mendekati. Dimata beliau, desainer adalah seniman yang tidak dapat dibatasi oleh apapun ketika menciptakan kreasinya, sementara printer mungkin dibatasi kendala kendala teknis dan harga atau biaya.

Beliau menekankan lebih lanjut bahwa warna adalah persepsi, dimana setiap orang bisa berbeda, oleh karena itulah dibuat standard standard untuk mengurangi perbedaan persepsi tersebut, sehingga diperlukan keterlibatan semua pihak yang terkait untuk membicarakan masalah reproduksi warna itu agar dapat dicapai kompromi.

Standard warna yang dimaksud adalah seperti misalnya Pantone. Standard itu dibuat agar memudahkan semua pihak dalam berkomunikasi dengan warna. Hampir semua pabrik tinta memiliki lisensi Pantone, maka tidak perlu percetakan harus ngaduk ngaduk tinta sendiri, tinggal telpon pabrik tinta,bilang mau warna Pantone berapa, mau dicetak dikertas apa,dan lain sebagainya. Dengan demikian memberi kemudahan bagi para pelaku berinteraksi.

Memahami bahasa baku percetakan seperti Pantone adalah hal yang cerdas dan perlu dilakukan bagi percetakan sebab akan memudahkan komunikasi warna yang diinginkan oleh pelanggan, dan menghilangkan komplain dan klaim atas hasil cetak yang tidak sesuai keinginan atau target desain. Komunikasi yang lancar dan mulus dan hasil yang memuaskan pelangggan sesuai desain akan membuat mereka menjadi loyal dan selalu datang dengan proyek baru dan lebih banyak dimasa mendatang.

Belajar pengetahuan dan standar baku cetak merupakan suatu keharusan untuk tumbuh dan maju di industri percetakan mengingat begitu cepat teknologi berubah dari waktu ke waktu. Berinvestasi teknologi cetak yang baru dan relevan merupakan keputusan strategis yang harus diambil bagi percetakan yang ingin berhasil dalam jangka panjang dan mempunyai posisi tawar tinggi dimata pelanggan, kalau tidak maka suatu percetakan hanya akan mendapatkan proyek berdasarkan harga

Analisis Penulis menilai perkembangan teknologi membuat kualitas mesin cetak maupun hasil cetakan semakin tinggi nilainya apalagi dengan adanya teknologi mesin pencetak dengan 6 warna tinta. Dan mesin cetak dengan teknologi Hybrid.. Mesin cetak yang baik mesin cetak yang mampu memenuhi standar kualitas warna . selain itu untuk mendapat kualitas cetakan yang sempurna perlu diimbangi dengan kualitas tinta dan kualitas kertas sesuai keperluan pencentakan tersebut. Untuk digital imaging selain masalah gambar desain kita jugah arus mulai memikirkan perlangkapan cetaknya sebagaimana suatu usaha dilaksanakan secara keseluruhan.

Sumber bacaan

padang ,Maret 2011

Diskusi dengan beberapa senior digital printing & digital ofset ..

http://ronitadp.wordpress.com/2008/08/25/mengenal-beberapa-media-cetakkertas-digital-printing/

http://ronitadp.wordpress.com/2008/08/19/mengenal-beberapa-komponen-utama-mesin-cetak-digital-digital-printing/

http://ronitadp.wordpress.com/2008/08/11/printer-mesin-cetak-digital-dengan-tinta-ecosolvent/

http://ronitadp.wordpress.com/2008/08/

http://www.kertasgrafis.com/?detailnews=printing+solution&idj4k=114

http://www.pcmedia.co.id/Detail.Asp?Id=152&Cid=22&Eid=4

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sharing Buttons by Linksku